Roadshow Kedua di Tahun ke-5, Hadirkan Solusi bagi Tantangan Budidaya Udang Sumenep
Sebagai bagian dari penyelenggaraan AgResults Indonesia Aquaculture Challenge Project Tahun ke-5, WWF-Indonesia selaku Project Manager kembali mengadakan kegiatan seminar roadshow di berbagai daerah untuk mendorong adopsi teknologi dan layanan pendampingan teknis bagi pembudidaya udang skala kecil. Road show ini menjadi wadah bagi para kompetitor dari sektor swasta untuk memasarkan produk teknologinya serta layanan pendampingan teknis kepada pembudidaya guna meningkatkan produktivitas budidaya.
Kegiatan seminar roadshow kedua di Tahun ke-5 ini dilaksanakan pada Kamis, 18 September 2025 di Dinas Perikanan Kabupaten Sumenep, Jawa Timur. Kegiatan ini dihadiri oleh 25 pembudidaya skala kecil, 10 penyuluh perikanan, 6 staf Dinas Perikanan Kabupaten Sumenep, serta 3 anggota Technical Advisory Committee (TAC) AgResults Indonesia, yaitu Arief Arianto, Coco Kokarkin, dan Supito.
Kabupaten Sumenep merupakan wilayah pesisir di Jawa Timur dengan potensi besar di sektor perikanan budidaya, terutama untuk komoditas rumput laut, ikan, dan udang. Luas kawasan yang ditetapkan sebagai lahan budidaya perikanan (air tawar dan air payau) mencapai sekitar 1.145 hektar (Bappeda Sumenep, RPJPD 2025–2045). Pada tahun 2023, produksi perikanan budidaya di wilayah ini tercatat sekitar 7.477 ton (Dinas Perikanan Sumenep, LKjIP 2023). Sementara itu, produksi udang vannamei, yang menjadi salah satu komoditas unggulan di Sumenep, tercatat mencapai 2.463 ton hingga Juli 2023 (Dinas Perikanan Sumenep, 2023).
Kegiatan road show diawali dengan kunjungan lapangan oleh Project Manager, tim TAC, dan para kompetitor pada 17 September ke tiga lokasi tambak di Gapura dan Kalianget. Kunjungan ini dilakukan untuk memahami praktik budidaya udang yang dilakukan serta tantangan yang dihadapi petambak saat ini. Contohnya, Di wilayah Gapura, terdapat tambak dengan ukuran sekitar 1,000 m² yang mengalami pertumbuhan udang lambat akibat dugaan serangan penyakit serta pembuangan limbah yang hanya dilakukan sebulan sekali. Tambak lainnya berukuran antara 600–1.100 m² menunjukkan tingkat kematian yang tinggi akibat penumpukan bahan organik serta pengelolaan air dan limbah yang kurang optimal. Sementara di Kalianget, tambak berukuran sekitar 1,000 m² dan 450 m² menunjukkan hasil panen yang relatif baik, namun masih menghadapi risiko penyakit seperti White Spot Disease (WSD) dan tantangan dalam pengelolaan limbah.
Permasalahan ini sejalan dengan tema seminar, “Pemanfaatan Teknologi untuk Peningkatan Kualitas Air dan Efisiensi Pakan pada Budidaya Udang,” yang diselenggarakan keesokan harinya.
Edie Ferrydianto, Kepala Bidang Perikanan Budidaya Dinas Perikanan Sumenep, membuka kegiatan ini. “Dalam dua hingga tiga tahun terakhir, semakin banyak masyarakat di Kabupaten Sumenep yang menekuni budidaya udang. Namun, seiring dengan perkembangan tersebut, berbagai tantangan juga muncul dalam praktiknya,” ujarnya. “Karena itu, saya berharap kehadiran WWF dan AgResults di sini dapat memberikan harapan baru serta informasi berharga bagi para pembudidaya untuk meningkatkan keberhasilan sekaligus keberlanjutan usaha mereka.”
Arief Arianto hadir sebagai moderator dalam seminar. Materi pertama, “Strategi Budidaya Udang Vannamei Skala Kecil,” disampaikan oleh Coco Kokarkin. Dalam paparannya, ia menekankan pentingnya pengelolaan kualitas air, pencegahan penyakit, penerapan biosekuriti, serta penggunaan teknologi pentokolan (nursery phase) untuk meningkatkan kelangsungan hidup benur. Ia juga menyoroti bagaimana meningkatkan efisiensi energi melalui pengaturan penggunaan kincir dan blower, serta penerapan IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah) guna menjaga keberlanjutan lingkungan tambak.
Sesi berikutnya diisi oleh Supito dengan materi “Pemanfaatan Teknologi untuk Meningkatkan Kualitas Air.” Ia membahas pentingnya manajemen kualitas air sebagai faktor kunci keberhasilan budidaya, melalui penerapan H2O2 untuk sterilisasi, teknologi mikrobubble aeration yang lebih hemat energi dibanding kincir, serta pendekatan bioremediasi dengan konsorsium bakteri untuk menguraikan limbah organik. Supito juga menekankan keseimbangan rasio karbon terhadap nitrogen atau C/N dalam sistem bioflok dan plankton agar budidaya tetap efisien, sehat, dan ramah lingkungan.
Di akhir acara, para kompetitor Tahun ke-5 mempresentasikan teknologi dan layanan pendampingan teknis mereka kepada pembudidaya skala kecil. Sebanyak enam kompetitor berpartisipasi dalam sesi ini, dengan PT Venambak Kail Dipantara, CV Cahaya Teknik Prima, dan CV Republik Vannamei hadir secara luring, sementara PT Banoo Inovasi Indonesia, PT Bumi Wirastaraya Sejahtera, PT Aqubeta Dipo Jaya, dan Aceh Aquaculture Cooperative berpartisipasi secara daring. Pada Tahun ke-5 ini, sesi presentasi kompetitor dilaksanakan secara hybrid untuk memastikan partisipasi yang lebih luas. Melalui format ini, kompetitor yang berhalangan hadir secara langsung tetap dapat memperkenalkan teknologi dan layanan pendampingan teknisnya.
Dengan mempertemukan pembudidaya udang skala kecil dengan kompetitor, harapannya road show ini dapat mendorong para pembudidaya untuk mengadopsi teknologi dalam kegiatan mereka, sehingga produktivitas dan kualitas hasil budidaya semakin meningkat. Road show terakhir akan dilaksanakan di Medan, Sumatera Utara pada bulan November, sebagai wadah bagi para kompetitor untuk memperkenalkan inovasi, memperluas jangkauan pasar, serta mempererat hubungan dengan para pembudidaya.