Menutup Perjalanan Road Show: Menguatkan Potensi Nila Salin di Sumatera Utara

Rangkaian road show ketiga AgResults Indonesia Aquaculture Challenge Project Tahun ke-5 kembali diselenggarakan sebagai road show terakhir pada tahun ini, sekaligus menjadi penutup rangkaian road show kompetisi AgResults di Indonesia. WWF-Indonesia selaku Project Manager mengadakan kegiatan seminar road show di berbagai daerah untuk mendorong adopsi teknologi dan layanan pendampingan teknis bagi pembudidaya skala kecil. Melalui road show ini, kompetitor dari sektor swasta berkesempatan untuk berdialog langsung sekaligus mempromosikan alat serta layanan pendampingan teknis yang mereka miliki kepada para pembudidaya.

Ikan nila merupakan komoditas unggulan sekaligus andalan ekspor perikanan budidaya Sumatera Utara. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (2025), produksi ikan nila mencapai 170.026 ton atau sekitar 46,7% dari total produksi perikanan budidaya. Produksi tersebut meningkat dari tahun sebelumnya, yaitu sebesar 2.143 ton dibandingkan tahun 2022. Ikan nila umumnya dibudidayakan di perairan air tawar, namun peningkatan kebutuhan produksi serta optimalisasi lahan pesisir mendorong pengembangan nila salin sebagai alternatif budidaya. Nila salin merupakan jenis ikan nila yang dibudidaya di air payau dan sedang dikembangkan di Sumatera Utara karena keunggulannya yang terletak pada pertumbuhannya yang cepat, adaptif, serta memiliki nilai ekonomi yang kompetitif di pasar domestik maupun ekspor. Pada daerah seperti Deli Serdang, ikan ini dikembangkan melalui metode budidaya tradisional di kolam tanah dan kolam terpal.

Kegiatan road show dimulai pada 11 November 2025 dengan kunjungan lapangan oleh Project Manager, tim TAC, dan para kompetitor ke dua lokasi tambak di Kecamatan Hamparan Perak untuk memahami proses dan tantangan budidaya nila salin di Sumatera Utara. Saat ini, para pembudidaya menghadapi tantangan berupa kematian ikan yang sebabkan oleh kualitas air yang buruk. Hal ini disebabkan karena adanya, peningkatan padat tebar dan input pakan tanpa praktik manajemen air yang baik sehingga mengakibatkan penurunan kualitas air secara keseluruhan. Pembudidaya mengatakan, kematian ikan terjadi di pagi hari dan ikan lainnya terlihat muncul ke permukaan. Hal ini menunjukkan rendahnya kadar dissolved oxygen (DO) yang terjadi sejak sore hingga malam hari.

Oleh sebab itu, pemantauan dan pengujian kualitas air secara rutin menjadi aspek penting untuk mendukung pengelolaan kolam yang efektif. Temuan di lapangan tersebut menjadi dasar bagi seminar yang digelar keesokan harinya, dengan tema “Pemanfaatan Teknologi dan Pendampingan Teknis untuk Meningkatkan Efisiensi Budidaya Nila Salin di Sumatera Utara.” Materi seminar ini dirancang untuk menjawab tantangan yang dihadapi para pembudidaya, termasuk masalah kematian ikan akibat kualitas air yang buruk, sehingga peserta memperoleh strategi praktis untuk meningkatkan manajemen kolam dan efisiensi budidaya.

Kegiatan seminar diselenggarakan di Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sumatera Utara dan Desa Tanjung Rejo pada hari Rabu, 12 November 2025. Kegiatan ini dihadiri oleh total 30 pembudidaya skala kecil, 5 penyuluh perikanan, 5 staf Dinas Kelautan dan Perikanan Sumatera Utara, serta 3 anggota Technical Advisory Committee (TAC) AgResults Indonesia, yaitu Arief Arianto, Coco Kokarkin, dan Supito.

Jenny Masniari, perwakilan dari Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sumatera Utara, membuka kegiatan ini. “Kami sangat menyambut baik penyelenggaraan seminar terkait pemanfaatan teknologi dan pendampingan teknis. Di sini, kami mulai beralih ke budidaya nila salin karena lebih adaptif terhadap penyakit dan memiliki waktu panen yang lebih cepat. Harapannya, teknologi yang dibawa oleh WWF dapat memberikan dampak positif bagi praktik budidaya di Provinsi Sumatera Utara,” ujarnya.

Dimoderatori oleh Arief Arianto, terdapat dua materi yang disampaikan pada seminar ini, yaitu materi “Intervensi Input Teknologi untuk Budidaya Nila Salin” yang disampaikan oleh Coco Kokarkin dan materi “Peranan Teknologi untuk Meningkatkan Produktivitas Budidaya Ikan dan Udang” yang disampaikan oleh Supito. Sesi seminar ini memunculkan sejumlah pertanyaan dari empat peserta. Gumri Budiman, Ketua Pokdakan Maju Bersama Jaya, menanyakan mengenai aspek-aspek utama yang perlu diperhatikan dalam praktik pemberian pakan dan pengelolaan kualitas air kolam.

Kualitas air dapat dijaga dengan menerapkan manajemen pakan yang baik dan terkontrol. Pada komoditas ikan nila, pemberian pakan lebih baik dalam porsi kecil dengan frekuensi 2-4 kali per hari. Penyesuaian pakan dengan nafsu makan ikan, disertai pergantian air kolam yang rutin, penting untuk mencegah pembentukan amonia dari sisa pakan berlebih. Manajemen pakan akan lebih efektif apabila dikelola menggunakan automatic feeder dibandingkan dengan pemberian pakan secara manual, sehingga pengelolaan kualitas kolam dapat berjalan lebih optimal dan berdampak langsung pada peningkatan produktivitas budidaya nila salin.

Pada akhir acara, kompetitor berkesempatan untuk mempresentasikan teknologi dan layanan pendampingan teknis yang mereka miliki kepada peserta seminar. Terdapat enam kompetitor berpartisipasi dalam kegiatan ini, diantaranya PT Venambak Kail Dipantara, Republik Vannamei, PT Bumi Wirastaraya Sejahtera, PT Raja Nila, Aceh Aquaculture Cooperative, dan CV Cahaya Teknik Prime. Sesi ini dilaksanakan secara hybrid agar kompetitor yang berhalangan hadir tetap bisa memperkenalkan layanan mereka kepada pembudidaya skala kecil.

Dengan berakhirnya rangkaian road show kompetisi ini, diharapkan pemahaman dan akses pembudidaya terhadap teknologi, pendampingan teknis, serta praktik manajemen yang lebih baik dapat terus meningkat. Peningkatan ini diharapkan mampu mendorong produktivitas budidaya, memberikan manfaat ekonomi bagi pembudidaya, sekaligus memperkuat ketahanan sektor perikanan daerah.