AgResults Indonesia Dorong Desiminasi Teknologi dan Pendampingan Teknis Budidaya Nila Sistem Bioflok
Menjelang berakhirnya tahun kelima AgResults Indonesia Aquaculture Challenge Project, WWF-Indonesia berkolaborasi dengan Pusat Penyuluhan Kelautan dan Perikanan, Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan, serta Kementerian Kelautan dan Perikanan untuk melaksanakan proyek percontohan (Pilot Project) kedua dengan budidaya ikan nila menggunakan sistem bioflok di Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) Gempolkerep, Kabupaten Mojokerto, Jawa timur. Pilot ini dirancang untuk mendemonstrasikan praktik budidaya perikanan yang lebih baik di lokasi yang dikelola oleh pemerintah, sekaligus menunjukkan bagaimana diseminasi teknologi dan pendampingan teknis yang didorong melalui proyek Pay-for-Results dapat memperkuat sistem produksi lokal serta mendukung adopsi teknologi yang lebih luas melalui jaringan pemerintah dan penyuluhan.
Kegiatan di Mojokerto juga mempertemukan sejumlah kompetitor AgResults untuk mendukung adopsi teknologi budidaya perikanan yang inovatif. Kisaran Aquaculture menyediakan prosedur budidaya berbasis bioflok serta pendampingan teknis, sementara dukungan aerator diberikan oleh CV Republik Vannamei, Prima Eco Aquaculture, PT Bumi Wirastaraya Sejahtera, dan Venambak Kail Dipantara. Kolaborasi ini mencerminkan pendekatan AgResults yang mendorong partisipasi sektor swasta dalam membantu pembudidaya skala kecil mengadopsi metode budidaya yang lebih baik.
Kabupaten Mojokerto tercatat sebagai kabupaten tanpa wilayah pesisir dengan angka konsumsi ikan tertinggi di Jawa Timur. Pada 2024, angka konsumsi ikan di kabupaten ini mencapai 50,46 kg per kapita per tahun atau setara dengan kebutuhan sekitar 58 ribu ton ikan per tahun. Namun, pada tahun yang sama, besar produksi ikan di wilayah ini hanya mencapai sekitar 1.756 ton per tahun atau sekitar 3% dari total kebutuhan konsumsi masyarakat setempat.
Kondisi tersebut menunjukkan adanya kesenjangan yang besar antara jumlah kebutuhan dengan produksi ikan lokal. Oleh karena itu, untuk meningkatkan produksi perikanan, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bersama KDMP mengembangkan budidaya ikan dengan sistem bioflok, yaitu metode budidaya yang memanfaatkan pertumbuhan bakteri heterotrof menguntungkan melalui keseimbangan rasio karbon dan nitrogen. Di Kabupaten Mojokerto, program bioflok KKP telah dialokasikan di tiga lokasi, salah satunya di Kecamatan Gempolkerep. Kini, dengan pengawalan aktif dari sebelas penyuluh, kecamatan ini telah menjadi bagian dari program Smart Fisheries Village (SFV) BPPSDM KP tahun 2026.
Dengan sarana kolam yang telah tersedia serta dukungan kelembagaan yang sudah terbentuk, Gempolkerep dipilih sebagai lokasi pilot yang strategis. Ikan nila dipilih sebagai komoditas yang dibudidaya pada pilot ini karena merupakan salah satu ikan konsumsi masyarakat sekaligus memiliki nilai ekonomi dan protein yang tinggi. Setiap 100 gram ikan nila mengandung sekitar 128 kalori dan 26 gram protein, sehingga menjadi komoditas yang berperan penting dalam mendukung mata pencaharian pembudidaya sekaligus ketahanan pangan.
Kegiatan panen parsial sebagai puncak rangkaian proyek percontohan dilaksanakan pada 19 Mei 2026. Setelah masa pemeliharaan selama 76 hari, dengan kepadatan tebar 1.100 ekor per kolam dan ukuran benih awal rata-rata 12–18 gram, kegiatan panen menghasilkan 140 kilogram ikan nila dengan ukuran panen mencapai 120–140 gram per ekor. Kegiatan panen turut diramaikan dengan demonstrasi pengolahan produk ikan nila oleh tim penyuluh BPPP Banyuwangi. UMKM binaan penyuluh juga berpartisipasi dengan menjual berbagai produk olahan ikan nila melalui bazar yang digelar bersamaan dengan rangkaian kegiatan. Bazar ini menjadi sarana untuk memperkenalkan berbagai inovasi produk berbasis ikan kepada masyarakat.
Kegiatan proyek percontohan ini dapat memperkuat peluang budidaya nila sistem bioflok di Kabupaten Mojokerto melalui kolaborasi multipihak.
“Hadirnya WWF dan diadakannya proyek percontohan ini memberi harapan bagi kami dalam meningkatkan produksi perikanan di Mojokerto.” ujar Malik Riduwan, Perwakilan Dinas Pangan dan Perikanan Kabupaten Mojokerto. “Kami berharap hasil proyek ini bermanfaat dan dapat ditularkan kepada pembudidaya lainnya di Gempolkerep,” Ujar Farid Kurnia Setiawan, Kepala Desa Gempolkerep.
Secara keseluruhan, penggunaan teknologi dan pendampingan teknis dari peserta kompetisi AgResults dalam proyek ini berhasil mendorong keterlibatan pemerintah dalam diseminasi dan penguatan pendampingan budidaya.
“Dukungan bantuan sistem bioflok dari KKP yang dipadukan dengan pendampingan serta teknologi dari AgResults membuat pertumbuhan ikan menjadi lebih cepat,” Ujar Yayan Hikmayani, Kepala Pusat Penyuluhan Kelautan dan Perikanan. “Kami ingin kegiatan ini menjadi percontohan penyuluhan, di mana masyarakat Mojokerto dapat melihat langsung dampak teknologi terhadap produktivitas budidaya. Jika terbukti berhasil, model ini dapat direplikasi untuk memenuhi lebih besar kebutuhan konsumsi ikan di daerah lain.”
Berdasarkan capaian tersebut, Pemerintah Kabupaten Mojokerto bersama BPPSDM KP dan BPPP Banyuwangi menyusun tindak lanjut pascakegiatan seremonial panen. Pemeliharaan ikan akan dilanjutkan pada akhir bulan Juni guna memenuhi kebutuhan suplai ke dapur SPPG sebagai mitra potensial. Kegiatan budidaya ini akan dilakukan oleh penyuluh perikanan setempat dan KDMP Gempolkerep. Menggunakan modal dari hasil panen total, hasil proyek percontohan ini selanjutnya akan dijadikan bahan studi banding untuk siklus berikutnya, yaitu budidaya ikan nila sistem bioflok dengan penerapan prosedur dari Kementerian Kelautan dan Perikanan.
Pengembangan budidaya dari hulu ke hilir juga akan diperkuat melalui kolaborasi pendukungan akses pakan yang lebih terjangkau, pengembangan pembenihan nila, serta pemanfaatan air limbah bioflok untuk mendukung sistem pertanian terintegrasi. Melalui proyek percontohan ini, dukungan diseminasi teknologi dan pendampingan teknis ini tidak hanya meningkatkan kapasitas pembudidaya dalam meningkatkan produksi, tetapi juga memperkuat kolaborasi multi pihak sekaligus membuka peluang pasar baru bagi para peserta kompetisi AgResults setelah kompetisi berakhir.