Perjalanan 5 Tahun AgResults Akselerasi Teknologi dan Pendampingan Teknis Akuakultur di Indonesia

Sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki potensi yang sangat besar dalam pengembangan akuakultur dan memainkan peran vital bagi ketahanan pangan dan perekonomian nasional. Namun, di balik potensi tersebut, pembudidaya skala kecil, yang menyumbang 70% proporsi pembudidaya di Indonesia, masih menghadapi sejumlah tantangan.  Praktik budidaya yang masih bergantung pada kondisi alam kerap membuat hasil panen sulit diprediksi dan rentan terhadap berbagai risiko, seperti ditemukannya kematian ikan akibat kekurangan oksigen dan serangan penyakit. Di samping itu, biaya pakan yang mencapai 60–70% dari total produksi semakin membebani pembudidaya, terutama ketika pemberian pakan/ yang dilakukan tidak efisien.

Untuk menjawab tantangan tersebut, dilaksanakan AgResults Indonesia Aquaculture Challenge Project, kompetisi penjualan berhadiah yang berlangsung dari 2021 hingga 2026, untuk mendorong pembudidaya udang dan ikan dalam mengadopsi on-farm teknologi, seperti aerator guna meningkatkan kadar oksigen dalam air, dan autofeeder untuk pemberian pakan secara terkontrol. Pada tahun ketiga, pendampingan teknis (TA) turut melengkapi pemanfaatan teknologi ini, dengan membantu pembudidaya skala kecil mengelola kualitas air dan risiko penyakit. Proyek ini dikelola WWF-Indonesia dengan dukungan dari Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya, Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Selama 5 tahun, proyek ini telah melibatkan 13 peserta penyedia teknologi dan 9 peserta pendampingan teknis serta berhasil mendorong adopsi teknologi dan TA di 34 Provinsi yang ada di Indonesia. Pada akhir periode, kompetisi teknologi berhasil melibatkan 3973 pembudidaya dengan total 14.068 unit alat yang terjual dan tersewakan. Sementara itu, kompetisi pendampingan teknis yang mulai diperkenalkan pada tahun ketiga, menjangkau 720 pembudidaya, dengan 855 paket layanan berhasil terjual. Secara keseluruhan, kompetitor menerima insentif sebesar USD 1.427.752,57 melalui kedua jenis kompetisi ini. 

Produk dan Pemasaran yang Lebih Baik untuk Meningkatkan Produktivitas dan Efisiensi Pembudidaya

Sepanjang kompetisi, para kompetitor mengadaptasi pendekatan mereka agar dapat merangkul pembudidaya skala kecil dengan lebih baik, mempelajari produk terbaik yang perlu ditawarkan, serta menemukan cara paling efektif untuk menjangkau pelanggan baru. Struktur kompetisi ini berfungsi sebagai platform tidak hanya bagi kompetitor yang menawarkan teknologi tradisional, tetapi juga bagi mereka yang memperkenalkan teknologi modern.

Dalam kategori modern, teknologi dievaluasi berdasarkan inovasi tambahan (seperti teknologi mikrobubbel), adaptasi energi hijau, dan integrasi Internet of Things (IoT). Sementara itu, alat pemberi pakan otomatis (auto-feeder) modern dinilai berdasarkan kapabilitas energi hijau dan integrasi IoT-nya.

Pada awalnya, bersifat technology-driven (berpusat pada teknologi), di mana perusahaan berfokus pada spesifikasi teknis peralatan—seperti kapasitas aerasi, efisiensi motor, atau fitur otomatisasi—tanpa mempertimbangkan konteks pengguna di lapangan secara mendalam. Akibatnya, inovasi tersebut menghasilkan aerator dan auto-feeder canggih yang sering kali terlalu rumit, mahal, dan kurang cocok untuk kondisi pembudidaya skala kecil. Seiring waktu, para kompetitor beralih ke pendekatan yang lebih berpusat pada pengguna (user-centric) dan didorong oleh pasar (market-driven). Beberapa kompetitor merancang ulang teknologi mereka agar lebih mudah dioperasikan, sedangkan kompetitor lain lebih fokus pada penyediaan variasi peralatan yang disesuaikan dengan kebutuhan pembudidaya, termasuk menyediakan alat yang lebih terjangkau. Untuk mendukung langkah tersebut, strategi pemasaran pun berevolusi dengan menyertakan sistem pembayaran yang fleksibel seperti sewa, cicilan, serta paket penjualan yang dibundel langsung dengan Pendampingan teknis.

 Kompetitor menyadari bahwa naiknya kelas pembudidaya harus melalui pendekatan ekosistem, dimana semua komponen akuakultur terlibat,” kata Coco Kokarkin, anggota tim Technical Advisory Committee (TAC) AgResults.

Teknologi ini terbukti telah menyederhanakan operasional sehari-hari di tambak. Aerator, misalnya, membantu menjaga stabilitas kadar oksigen terlarut (dissolved oxygen) di kolam—terutama pada malam hari saat risiko penyusutan oksigen berada pada titik tertinggi. Hal ini sangat kritis dalam sistem akuakultur intensif dengan padat tebar tinggi di mana kebutuhan oksigen meningkat drastis. Sementara itu, auto-feeder membantu mengatur jadwal pemberian pakan, sehingga pembudidaya tidak perlu lagi memberi pakan secara manual berkali-kali dalam sehari. Teknologi ini secara signifikan menghemat waktu kerja, mengurangi kebutuhan tenaga kerja harian, serta meningkatkan efisiensi pakan karena pakan diberikan secara lebih konsisten dengan porsi yang terkontrol.

“Adanya kincir membuat saya tidak harus terbangun di malam hari,” ujar Patih, pembudidaya asal Sumatera.

 “Mereka mulai sadar teknologi, bahwa penambahan alat seperti kincir dapat meningkatkan hasil panen udang dan ikan,” ujar Nonot, Direktur CV Republik Vannamei.

Untuk mendukung pengenalan kompetitor ke pembudidaya, WWF-Indonesia sebagai project manager menyelenggarakan roadshow ke berbagai daerah. Roadshow ini berfungsi sebagai ajang diskusi terkait permasalahan budidaya, serta memfasilitasi promosi produk dan layanan kompetitor. Melalui kegiatan roadshow AgResults dan promosi kompetitor berbasis market driven, semakin banyak adopsi teknologi yang dilakukan oleh pembudidaya skala kecil.

Penggunaan autofeeder membantu mengatur jadwal dan jumlah pakan secara lebih konsisten, sehingga pembudidaya tidak lagi harus memberi pakan manual beberapa kali sehari. Di lapangan, teknologi ini membantu menghemat waktu kerja dan mengurangi kebutuhan tenaga harian.

“Penggunaan autofeeder membuat pemberian pakan lebih efisien,” kata Kelik, petambak udang asal Purworejo.  

Didorong oleh roadshow dan promosi yang fokus pada pasar ini, adopsi teknologi baru di kalangan pembudidaya skala kecil pun meningkat pesat. Dengan produk yang lebih relevan dan metode pendekatan yang lebih efektif, kompetitor mampu mendorong penerimaan teknologi yang lebih tinggi di kalangan pembudidaya, terutama setelah mereka melihat manfaat nyata di lapangan. Terbukti mampu meningkatkan produktivitas, teknologi tambak seperti aerator dan auto-feeder tidak lagi dipandang sebagai alat sementara, melainkan sebagai investasi cerdas jangka panjang.

Pendampingan teknis untuk Mendorong Inovasi dan Praktik Terbaik

Ditambahkan sebagai kategori hadiah terpisah pada Tahun ke-3 proyek, paket pendampingan Teknis (TA) membantu meningkatkan pengambilan keputusan pembudidaya dan penerapan praktik terbaik akuakultur. Alih-alih baru mengidentifikasi penyakit setelah terjadi kematian ikan, pencatatan data yang disiplin dan pemantauan kualitas air secara berkala memungkinkan pembudidaya untuk mengantisipasi risiko dan memahami kondisi kolam mereka dengan lebih baik. TA yang diberikan oleh kompetitor juga berhasil mengubah pola pikir, mendorong pembudidaya untuk mengadopsi inovasi modern seperti sistem bioflok yang dipromosikan secara nasional oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan sejak tahun 2020.

Dwi Agus, seorang pembudidaya ikan nila sejak tahun 2002, mengubah kolam tanah tradisionalnya menjadi sistem bioflok kolam terpal bulat pada tahun 2025 dengan bantuan dari kompetisi AgResults ini. Pendampingan teknis tersebut telah meningkatkan efisiensi penggunaan air dan mendongkrak produktivitas secara signifikan. Mencerminkan dampak yang dirasakannya, Agus menyatakan, “Aspek yang paling berkesan dari pendampingan teknis ini adalah lonjakan panen yang signifikan di area yang lebih kecil.”

Menariknya, manfaat dari teknologi dan metode ini menyebar secara organik di antara para pembudidaya. Mereka saling berbagi pengalaman positif satu sama lain, yang membantu membangun kepercayaan dan kredibilitas terhadap inovasi tersebut tanpa memerlukan terlalu banyak dorongan langsung dari pihak eksternal.

“Pada akhirnya pembudidaya menjadi mitra potensial para kompetitor sebagai ujung penjualan,” ujar Arief Arianto, anggota tim Technical Advisory Committee (TAC) AgResults.

Peran Perempuan yang Kian Meluas dalam Praktik Akuakultur

Meski kerap dianggap sebagai sektor yang didominasi laki-laki, praktik di lapangan menunjukkan bahwa budidaya skala kecil tidak terlepas dari peran keluarga, terutama perempuan. Istri sering memegang peran penting dalam pengelolaan keuangan, baik untuk kebutuhan rumah tangga maupun operasional budidaya. Mereka juga sering terlibat dalam proses pascapanen seperti sortasi produk hingga pencatatan hasil hasil panen.

Melihat fenomena tersebut, mulai dari tahun kedua, proyek ini aktif mempromosikan pemberdayaan perempuan melalui tiga rangkaian pelatihan literasi keuangan dan kewirausahaan untuk memperkuat kapasitas manajemen finansial mereka. Total sebanyak 94 perempuan berpartisipasi dalam pelatihan ini, yang dirancang secara komprehensif mencakup berbagai topik penting seperti perencanaan anggaran, strategi menabung, pengelolaan pinjaman yang bijak, komunikasi keuangan, teknik perencanaan bisnis, strategi penentuan harga produk, wawasan pemasaran, hingga manajemen risiko. Pelatihan ini juga dilengkapi dengan asesmen pra dan pasca-pelatihan (pre- and post-test) untuk mengukur tingkat pemahaman peserta serta efektivitas sesi yang diberikan.

Seiring berjalannya waktu, tidak hanya jumlah pembudidaya perempuan yang meningkat, tetapi makin banyak pula perempuan yang memasuki bidang ini sebagai teknisi tambak. Walaupun masih dalam tahap awal, peluang bagi perempuan kian terbuka lebar, terutama melalui pemanfaatan teknologi akuakultur skala kecil yang dapat dikelola lebih dekat dari rumah.

“Meskipun angka keterlibatan perempuan di tambak masih lebih kecil dibandingkan laki-laki, namun kini trennya meningkat,” Ujar Ery Damayanti, anggota tim Technical Advisory Committee (TAC) AgResults.

Strategi Pasca-Proyek: Inovasi dan Kemitraan dengan Pemerintah

Meski proyek AgResults resmi berakhir, serangkaian upaya terencana telah disiapkan untuk memastikan bahwa adopsi teknologi dan pendampingan teknis terus berlanjut di masa depan. Strategi pasca-proyek ini penting agar adopsi teknologi, pengembangan inovasi, dan peningkatan produktivitas yang telah mapan selama kompetisi dapat terus berjalan berkelanjutan di tahun-tahun mendatang.

Salah satu langkah besarnya adalah para kompetitor mulai memanfaatkan hadiah uang tunai yang mereka menangkan untuk memperkuat berbagai lini bisnis, seperti meningkatkan strategi pemasaran, memacu inovasi melalui penelitian dan pengembangan (R&D), serta meningkatkan kapasitas sumber daya manusia. Beberapa kompetitor bahkan telah menyiapkan model bisnis fase berikutnya, yang mencakup pengembangan alat yang lebih hemat energi, pemanfaatan sistem berbasis IoT yang lebih terintegrasi, perluasan layanan Pendampingan teknis mandiri, hingga mempertahankan model penjualan paket (bundled) dan sistem pembayaran fleksibel untuk menjangkau pasar yang lebih luas.

Untuk memastikan manfaat kompetisi tidak berhenti setelah proyek berakhir, WWF-Indonesia bekerjasama dengan pemerintah untuk melaksanakan dua kegiatan proyek percontohan di Pati dan Mojokerto. Proyek percontohan ini merupakan kegiatan budidaya ikan atau udang selama satu siklus yang berkolaborasi dengan kompetitor, pembudidaya, dan pemerintah setempat. Kegiatan ini berfungsi sebagai pembuktian langsung atas performa teknologi dan pendampingan teknis dari para kompetitor dan melihat dampak nyata penerapan teknologi terhadap produktivitas budidaya. Hasil dari pilot tersebut diharapkan dapat menjadi masukan bagi pemerintah dalam pengembangan teknologi budidaya dan dapat didesiminasikan kepada pembudidaya dan juga penyuluh di wilayah lain. Hal ini membuka peluang bagi kompetitor untuk memperluas jangkauan teknologi dan pendampingan teknis serta terus berkontribusi terhadap perkembangan budidaya di Indonesia, bahkan setelah kompetisi berakhir.

Secara keseluruhan, AgResults Indonesia Aquaculture Challenge Project telah membuktikan bahwa menawarkan model kompetisi berbasis insentif dapat menjadi katalis yang sangat kuat bagi adopsi teknologi akuakultur dan pendampingan teknis di Indonesia. Proyek ini sukses memantik inovasi teknologi tepat guna di tingkat tambak dengan menghasilkan aerator dan auto-feeder yang lebih sesuai dengan kebutuhan lapangan, meningkatkan penerimaan teknologi di kalangan pembudidaya skala kecil, serta mendongkrak pendapatan melalui praktik budidaya yang lebih efisien. Pada akhirnya, inisiatif ini berhasil memperkuat hubungan rantai nilai antara sektor swasta dan pembudidaya kecil, menempatkan sektor akuakultur Indonesia pada posisi yang kuat untuk pertumbuhan dan inovasi berkelanjutan selama bertahun-tahun yang akan datang.